UTAMA   |   MANDIRI KARTU KREDIT   |   MANDIRI   |    KONTAK    |    FORM PEMESANAN ANDA (0)

Experience TEXT SIZE   Min plus Default

luke-donald.jpg

Setelah empat tahun terhempas dari deretan 10 pegolf  terbaik dunia, Luke Donald kembali menemukan ritmenya dan berhasil menjadi juara di Madrid Masters. Kini, ia berada di peringkat 7 dunia.

Ajang Madrid Masters di bulan Mei silam pastinya tak akan dilupakan oleh Luke Campbel Donald. Di turnamen yang masuk dalam ATP World Tour Masters tersebut, Luke berhasil menjadi juara setelah mengalahkan pegolf muda Rhyes Davies dengan keunggulan hanya satu pukulan. Perolehan tersebut sekaligus memecahkan masa paceklik setelah empat tahun tidak pernah menjuarai satu turnamen pun. Ajang terakhir Luke menjadi juara adalah Honda Classic pada tahun 2006. Setelah menjuarai rangkaian PGA itu, Dewi Fortuna sepertinya segan untuk menyapa Luke. Ia memang beberapa kali mampu masuk dalam putaran play off namun tidak pernah juara.

Pegolf kelahiran Inggris pada 7 Desember 1977 tersebut seperti mengalami sindrom yang menghinggapi kebanyakan pegolf muda berbakat. Cemerlang saat amatir, hebat mengawali tahun pertama di arena profesional, namun tidak konsisten di tahun-tahun berikutnya.

Ketika masih berstatus amatir, Luke pernah menorehkan beberapa catatan bagus. Sewaktu masih remaja, ia sudah mewakili Inggris bertanding di arena internasional. Impian bergelut di dunia golf kemudian membawanya untuk memutuskan hijrah ke Amerika Serikat.

Di negara adidaya tersebut ia mendapat beasiswa golf dari Nortwestern University pada tahun 1997. Berkat bimbingan Pat Goss, Luke berhasil menjuarai NCAA Division I Men’s Golf Championship pada tahun 1999 sekaligus mematahkan catatan rekor pukulan yang sebelumnya dipegang Tiger Woods. Di tahun itu ia juga menduduki peringkat tertinggi pegolf amatir Inggris termasuk dianugerahi Les Bolstad Award untuk Big Ten Stroke dan Fred Haskin Award. Meski masih amatir, Luke sudah bermain di arena pro, bahkan menjuarai Chicago Open tahun 2000.

Dengan torehan prestasi yang menjanjikan tersebut, pemilik tubuh 175 cm ini memutuskan untuk hijrah ke arena profesional pada tahun 2001. Di tahun pertamanya, sinar Luke begitu terang. Dalam beberapa turnamen ia mampu masuk dalam jajaran 10 besar. Keterampilan menyelamatkan bola di bunker menjadi salah satu keahlian yang menyita perhatian pecinta golf. Dengan beberapa prestasinya dan raihan hadiah uang, Luke kemudian menjadi salah satu pegolf muda yang mampu menembus penghasilan di atas USD 1 juta di musim pertama mereka.

Pada tahun 2004, Luke berhasil menyabet dua gelar juara di putaran European Tour, yaitu di Omega European Masters dan  Scandinavian Masters. Di tahun itu pula ia menjadi penentu bagi Inggris saat menjuarai Ryder Cup dan WGC-World Cup. Harapan publik Inggris sangat tinggi terhadap Luke Donald dan menganggap ia mampu menyaingi Tiger Woods sebagai pegolf terbaik dunia.

Harapan itu tidak salah, setidaknya jika melihat perjalanan karier Luke hingga tahun 2006. Dari ranking 20 besar di tahun 2005, Luke yang juga hobi melukis ini masuk dalam jajaran 10 besar pegolf dunia pada tahun 2006 setelah menjuarai Honda Classic. Namun setelah itu, prestasinya melorot. Beberapa kali ia terlempar dari putaran final, bahkan jarang masuk peringkat 10 besar. Rankingnya terempas dari peringkat 9 menjadi  29 pada tahun 2009. Kendati demikian, perolehan uangnya terbilang stabil. Hal itu berkat beberapa sponsor besar asal Inggris seperti RBS tetap setia mendampingi Luke.

Di tahun 2010, penampilan Luke mulai kembali konsisten. Beberapa kali ia masuk peringkat tiga besar, seperti di Verizon Heritage, BMW PGA Championship dan RBC Canadian Open. Dan saat ini, berkat menjuarai Madrid Masters, peringkatnya melambung hingga ranking 7 dunia – peringkat tertinggi yang pernah ia capai dalam kariernya. Lalu, mampukah peringkat Luke Donald bergulir ke posisi yang lebih tinggi di akhir tahun nanti? Tampaknya demikian.






Utama  |   Terms & Conditions   |   Kritik & Saran   |   Kontak
Bank Mandiri © 2009 - 2010 All Rights Reserved